Penggembira

 

 

Apabila tim sepak bola Surabaya akan menghadapi tim sepak bola Jakarta, biasanya berdatangan pula para supporter timnya dari Surabaya. Kefanatikan mensupport timnya kadang-kadang berakhir dengan huru-hara. Pers menjuluki mereka sebagai penggembira. Apakah kita mau disebut penggembira dan berakhir dengan teror ?. Setiap hari minggu begitu banyak orang-orang yang datang ke gereja atau apabila ada acara-acara. Sebut saja natal, kematian dan paskah. Gereja-gereja penuh bahkan menambah waktu pelayanan menjadi dua atau tiga kali sehari. Ketika bertemu seorang teman di jalan waktu pulang ke rumah selesai ibadah temannya bertanya: “dari mana ?” jawabnya: “dari gereja. Pembicaranya si anu, waduh bagus sekali firmannya.” Temannya dengan penuh keingintahuan balas bertanya: “wah! firman tentang apa ya ? dan apa pelajaran yang bisa kita petik. Sebut saja si Markus, gelagapan karena dia sendiri tidak mengerti apa yang di bicarakan pendetanya. Tapi dia menjawab: “pokoknya bagus.” Dan menyambung dengan perkataan klise yang penting Tuhan Yesus itu baik yang lain akan berkata “wah gereja saya penuh dengan orang sampai-sampai dibuatkan tenda di luar.” Dia akan membanggakan gereja nya pada teman-temannya seolah-olah mengatakan “mana dada mu, ini dada ku.”

Apakah kita-kita ini bisa disamakan dengan penggembira. Mereka mau ke gereja adalah suatu permulaan yang baik adanya apa pun alasannya. Kita tentu selalu mencari yang terbaik seperti kata Paulus “sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (lih Roma 12:2). Sebab itu kita jangan hanya datang dan pergi ke gereja setiap minggu hanya sebagai penggembira. Menurut psikolog seorang yang mendengar pelajaran 40 menit hanya dapat menyerap 10 % dari yang dibicarakan. Sebab itu seorang murid harus mendengar, membaca dan menulis. Firman sebagai pengenalan akan Tuhan haruslah dipelajari dan harus diajarkan dengan benar.

Kepribadian kita dibangun dari latar belakang dan lingkungan tapi firman membangun kepribadian untuk menjadi sama serupa dengan karaktek Kristus walaupun kita tidak sempurna karena hanya DIA yang sempurna.

Karakter membuat kita menjadi pribadi yang benar di dalam kebenaran. Sebagai orang Kristen kita harus mempelajari firman supaya tidak mudah diseret oleh pengajaran sesat. Buanglah kesombongan dan keangkuhan hidup dan berjalananlah bersama DIA dengan segala kerendahan hati. Niscaya Anda tidak akan haus lagi mencari kebenaran hidup ini.

The following two tabs change content below.

Tilly Palar

Latest posts by Tilly Palar (see all)