Domba yang Baik


“Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku.”
[Yoh. 10:27]

 

Sang Guru sedang berjalan melewati serambi Salomo di Bait Allah ketika orang-orang Yahudi mengerumuniNya dan memintaNya untuk berterus terang mengenai identitas-Nya: apakah Dia Mesias yang dijanjikan atau bukan. Dalam nada prihatin, Sang Guru menjawab, bahwa seharusnya segala mukjizat dan pengajaran yang selama ini mereka saksikan di dalam kehidupan-Nya sudah cukup menjawab pertanyaan mereka. Apa yang membuat mereka masih bertanya-tanya? Menurut Sang Guru dari Galilea itu, penyebabnya tak lain adalah karena mereka tidak termasuk domba-domba-Nya. Itu terlihat jelas dari keengganan mereka untuk mengikut Dia, dan makin tampak jelas lagi setelah mereka mengambil batu dan mencoba melempariNya karena Dia mengatakan, bahwa Dia dan Bapa adalah esa.

Gembala dan domba memiliki posisi yang unik dalam kehidupan Sang Guru. Pada malam ketika Dia lahir, malaikat dan orkestra surgawi memilih para gembala sebagai penonton mereka. Domba yang hilang dan gembala yang baik merupakan dua dari banyak perumpamaan-Nya untuk menggambarkan hubungan antara manusia dan penciptanya. Sang Guru bahkan mengidentikkan Diri-Nya sebagai gembala yang baik. Tak hanya sebagai Sang Gembala Agung, Sang Guru juga disebut sebagai “Anak Domba Allah,” yang darah-Nya menebus umat berdosa dari hukuman kekal.

Hubungan akrab gembala dan domba tak terjalin instan. Tiap gembala memiliki suara dan panggilan yang unik bagi domba-dombanya. Itu sebabnya, para domba sangat mengenal gembala mereka. Sekelompok orang berupaya membuktikan hal ini dan mengunggah hasilnya di Youtube:

Setelah masing-masing pengunjung peternakan berupaya dengan susah payah memanggil para domba dan sama sekali tidak digubris, datanglah Sang Gembala yang memanggil mereka, yang sontak berhenti melakukan segala aktivitas dan berjalan mendekatinya. Sebuah penggambaran yang indah mengenai eratnya hubungan antara gembala dan domba-dombanya.

Beberapa hari belakangan ini, ada “Surat Penggembalaan” yang meresahkan para domba, karena “suara”nya sama sekali berbeda dari suara Sang Gembala Agung mereka. Mengapa meresahkan? Karena surat itu justru berasal dari lembaga yang notabene berisikan perwakilan para gembala yang dipercaya untuk menuntun para domba kepada Sang Gembala Agung. Kepada Sang Guru.

Rupanya, mereka bukanlah gembala, melainkan orang-orang upahan. Orang-orang upahan ini, menurut Sang Guru, baru akan memperlihatkan warna asli mereka apabila serigala datang untuk menerkam dan mencerai-beraikan kawanan domba. Karena upahan, mereka hanya bekerja berdasarkan upah yang diterima, dan tidak sungguh-sungguh memperhatikan kesejahteraan dan pertumbuhan para domba.

Namun demikian, domba yang baik adalah ia yang mendengarkan dan mengikuti suara Sang Gembala Agung yang menuntun kepada kehidupan, bukan suara orang-orang upahan yang menyesatkan. Domba yang baik dapat membedakan, manakah suara gembala yang asli, dan manakah suara orang-orang upahan. Domba yang baik dapat membedakan, karena ia memiliki hubungan yang terjalin erat dengan Sang Gembala Agung, melalui Surat Penggembalaan yang asli, yang benar, dan yang membawa kehidupan.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *