Agama, “Bisnis” yang Menjanjikan?

Sebuah video di Facebook menunjukkan bagaimana sebuah acara di Amerika Serikat, Last Week Tonight, yang dipandu oleh John Oliver, mempertanyakan praktik-praktik dari para pengkhotbah televisi, yang alirannya biasa disebut sebagai “Injil Kemakmuran”. Pada umumnya, Injil Kemakmuran memiliki konsep yang sederhana, yakni kondisi keuangan, kesehatan, dsb. sangat dipengaruhi oleh iman seseorang. Apabila iman Anda kuat, maka Anda akan diberkati dalam hal keuangan, kesehatan, dan lain-lain.

Nah, apa bukti kuatnya iman seseorang? Para pengkhotbah televisi tersebut mempopulerkan istilah “benih” sebagai pengganti kata “uang”. Semakin besar iman Anda, seharusnya semakin besar pula “benih” yang Anda “taburkan” (melalui rekening yang tertera di layar televisi). Demikian kira-kira cara berpikirnya. Melalui produksi jargon-jargon rohani, mereka memperdaya jemaat awam untuk memperkaya diri.

Bukan hanya menyoal praktik menyimpang yang dilakukan oleh para pengkhotbah televisi, John Oliver juga menyinggung soal penerapan pajak yang sangat longgar terhadap gereja oleh IRS–semacam Dinas Pajak di Amerika Serikat. Semua aset gereja maupun pendeta dianggap sebagai harta bebas pajak.

Tak hanya di gereja, fenomena “bisnis agama” juga ada di institusi kerohanian yang lain. Ketika umat beragama tidak memiliki daya nalar yang kritis, mereka berpotensi menjadi “sapi-sapi perah” para pemimpin agama yang telah dibutakan oleh kenikmatan duniawi (uang, seks, dsb.) dan mencatut nama Tuhan untuk mempertebal pundi-pundi mereka sendiri.

Waspadalah!

update:
Jika video di atas tak bisa diputar, silakan klik video di bawah ini (tanpa terjemahan bahasa Indonesia):

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.