Cinta Saja Tidak Cukup

Yang pernah mengalami cinta monyet alias cinta masa remaja pasti tahu, bahwa layaknya monyet, kita hanya jatuh cinta pada “pisang” yang “kulit”nya masih bagus. Mulus. Yang penting penampilan keren dan membuat kita bangga ketika jalan bersama, sedangkan masalah kecocokan sifat apalagi tujuan hidup jadi nomor kesekian. Pacar menjadi tak ubahnya sebuah pajangan di ruang tamu dengan fungsi yang jelas: mempesona tamu dan membuat bangga pemilik rumah. Itulah cinta monyet!

Cerita yang berbeda terjadi ketika “monyet-monyet” itu sudah “berevolusi” menjadi manusia-manusia dewasa. Seiring dengan perkembangan pemikiran, mental, dan sosial, tampilan luar seringkali bukanlah kriteria utama yang dikejar-kejar sedemikian rupa. Kualitas karakter dan kesamaan visi hidup justu menjadi pertimbangan utama.

Hal-hal lain yang dulunya tidak pernah terpikir, seperti persetujuan keluarga, kesiapan secara sosial, mental, dan ekonomi, tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam pertimbangan-pertimbangannya. Penampilan bukan lagi masalah utama, meski tentunya kita akan berusaha mengingatkan jika lipstik sang kekasih terlalu tebal atau badan melebar karena terlalu banyak mengudap.

Sayangnya, tidak semua monyet itu beranjak dewasa sebagaimana seharusnya. Banyak faktor yang mempengaruhi, seperti didikan keluarga, pergaulan, atau lainnya. Akibatnya, masih banyak yang sekedar mencari pajangan, padahal sudah waktunya mereka mencari pasangan. Tak sedikit yang terperangkap dalam mitos kisah Cinderella, yaitu bahwa si cantik sudah semestinya berpasangan dengan si tampan, menikah, lalu hidup bahagia selamanya.
[read more=”Baca lebih banyak” read less=””]
Padahal, kulit pisang pun bisa layu seiring dengan berjalannya waktu. Kita menyaksikan betapa banyak pasangan yang ketika pacaran dan menikah nampak begitu serasi, bercerai tak lama kemudian. Saya tak menganjurkan kita semua untuk mencari pasangan yang jelek atau buruk rupa, karena ketertarikan fisik pun diperlukan dalam sebuah hubungan.

Yang ingin disampaikan oleh “mantan monyet” ini adalah, carilah pasangan yang sejati, jangan sekedar pajangan yang membanggakan ketika diajak bersosialisasi. Karakter dan tujuan hidup sebaiknya menjadi prioritas utama. Jika kedua hal itu masuk dalam daftar, barulah kita berani berkata, bahwa kita telah mengalami evolusi cinta monyet.

 

Tapi tunggu dulu…

Karakter dan tujuan hidup seperti apakah yang seharusnya dipertimbangkan dalam memikirkan atau menggumulkan tentang pasangan? Sebagai orang percaya, tentu kita harus kembali berpaling kepada firman Tuhan di dalam Alkitab. Untuk karakter, tentunya semua orang menginginkan pasangan yang jujur, setia, penuh kasih, pekerja keras, dan karakter-karakter yang “Alkitabiah” lainnya. Tetapi kita harus ingat, bahwa pribadi dengan karakter-karakter yang sepenuhnya mulia itu hampir mustahil akan kita temukan. Bahkan, kita sendiri pun tak berani mengklaim, bahwa kita “semulia” itu bukan?

Nah, sementara karakter masih bisa “dinego”, lain halnya dengan tujuan hidup. Firman Tuhan dalam Amos 3:3 menyatakan, “Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?” Dalam terjemahan Bahasa Indonesia Masa Kini, ayat tersebut tertulis, “Mungkinkah dua orang bepergian bersama-sama tanpa berunding lebih dahulu?” Ayat tersebut mengatakan kepada kita sebuah prinsip yang umum, yakni bahwa tidak mungkin dua orang melakukan sesuatu hal atau pergi ke suatu tempat tanpa memiliki kesamaan tujuan. Demikian pula halnya dengan hubungan percintaan. Hanya bermodal cinta saja tidaklah cukup untuk melakukan perjalanan.

Oleh karena itu, sebaiknya kita terlebih dahulu menggumulkan tentang apakah tujuan hidup kita, atau “istilah rohaninya”, apakah panggilan hidup kita? Secara umum, Tuhan memberikan tujuan hidup yang sama kepada setiap orang, yakni seperti yang tertulis dalam Kejadian 1:28, “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Tetapi, tentu saja Tuhan tidak memanggil semua orang untuk memiliki profesi yang serupa dalam rangka “menaklukkan bumi.” Musa, misalnya, dipanggilNya untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir, sementara Daniel dipanggil Allah menjadi pejabat di Babel, Nehemia membangun kembali reruntuhan kota Yerusalem, dan sebagainya. Demikian pula dengan masing-masing kita. Tuhan telah dan akan mengaruniakan kepada kita talenta, hobi, kerinduan, pengalaman, dll. yang akan menentukan bagaimana kita memenuhi panggilan-Nya secara khusus dalam hidup kita.

Soal panggilan hidup, barangkali harus dibahas tersendiri. Tetapi yang pasti, seorang Kristen yang hendak memiliki pasangan sebaiknya telah terlebih dahulu mengerti, kehidupan seperti apa yang akan dijalaninya nanti, dalam rangka mengerjakan panggilan Tuhan. Kita tentu tidak bisa mengajak teman bepergian tanpa tahu terlebih dahulu ke mana tujuannya, bukan? Begitu pula sebaliknya, kita akan enggan dan bahkan menolak apabila ada teman yang mengajak kita pergi tanpa tujuan yang pasti.

Setelah mengetahui kira-kira profesi dan hidup seperti apa yang akan kita jalani ke depan, barulah kita bisa mulai bergumul untuk “mencari teman”. Inilah teman hidup yang sesungguhnya, yakni seseorang yang dengannya kita bersepakat dalam mengerjakan panggilan Tuhan tertentu di dalam hidup, dan akan menjadi “penolong yang sepadan” ketika mengerjakannya. Bukan hanya teman nongkrong, teman jalan-jalan, teman resepsi, atau teman tidur saja.

 

Selama belum menikah, buka mata!

Setelah menemukan calon pasangan hidup, entah masih “gebetan”, pacaran, atau sudah tunangan, kita wajib “buka mata lebar-lebar.” Setelah menikah, barulah kita “tutup mata.” Artinya, selama belum menikah, pertimbangkan baik-baik orang yang akan Anda nikahi itu. Orang yang sedang jatuh cinta akan kesulitan menilai secara jujur mengenai kelebihan dan kekurangan orang yang dicintainya itu, tetapi itu tetap harus dilakukan.

Apabila yakin, bahwa sifat, karakter, hobi, keluarga, dan tujuan hidupnya cukup cocok, barulah lanjut ke jenjang berikutnya: pernikahan. Setelah menikah, kita harus tutup mata. Artinya, karena kita sudah menjadi “satu daging”, maka segala keburukan pasangan kita juga menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup kita. Tetaplah bertahan, dan jangan tinggalkan.

Ada banyak pasangan yang ketika pacaran dan awal pernikahan tampak serasi dan bahagia, namun di kemudian hari mencatatkan gugatan cerai di Pengadilan Negeri. Hubungan retak, dan korban terbesarnya adalah anak-anak. Ini terjadi karena mereka menutup mata ketika berpacaran atau bertunangan, tetapi baru membuka mata setelah menikah. Ternyata dia tak sebaik yang kukira. Dan semacamnya.

Itu sebabnya, janganlah terburu-buru dalam mengambil keputusan dalam perkara yang sangat penting seperti pernikahan. Jangan hanya karena cuma dia seorang yang menyatakan cinta, bukan berarti dialah yang tepat untuk kita. Jikalau karakter dan panggilan hidup sudah tidak memungkinkan untuk menjalani hidup bersama, sebaiknya tidak membuang waktu untuk membuat pengecualian-pengecualian. Jangan takut “tidak laku”, karena kita bukanlah barang dagangan, melainkan teruslah berdoa kepada Tuhan dan nantikanlah hingga waktunya tiba, seperti ada tertulis, “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya…” (Pengkhotbah 3:11a).[/read]

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.