Sampah

Putri sekaligus anak kedua saya tergolong aktif, atau setidaknya, lebih aktif daripada kakaknya. Thea, demikian ia dipanggil, adalah seorang peniru ulung. Apa saja yang dilihatnya orang lain lakukan, ia akan berusaha untuk melakukan hal serupa. Rasa ingin tahunya pun cukup besar.

Karena aktif bergerak, ia akan dengan senang hati menyanggupi apabila saya atau kakaknya menyuruhnya untuk membuang barang-barang ke tempat sampah.

Tetapi, karena rasa ingin tahunya juga besar, ada kalanya ia malah mengambil barang-barang yang ada di tempat sampah. Ketika hal itu terjadi, kami pun buru-buru menyuruhnya untuk membuangnya kembali ke tempat sampah. Atau, apabila “membandel,” kami akan mengambil barang tersebut dan membuangnya sendiri ke tempat sampah.

Syukurlah, makin bertambah usia, Thea makin bisa memahami, bahwa barang-barang yang sudah dibuang ke tempat sampah tidak seharusnya diambil kembali (tentu saja terkadang ada pengecualian).

Sama seperti putri bungsu kami tersebut, demikian pula tampaknya kehidupan kerohanian kita makin bertumbuh dalam pemahaman mengenai hal-hal apa saja yang sepatutnya disimpan, dan hal-hal apa saja yang selayaknya dibuang ke tempat sampah. Seiring berjalannya waktu dan pelajaran dari pengalaman, kita menjadi semakin bisa membedakan dan menentukan hal-hal yang berguna bagi hidup kita.

Bahkan, bisa jadi hal-hal yang tadinya merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi kita, kemudian menjadi seperti “sampah” setelah kita mendapatkan pengertian yang benar mengenai kehidupan. Kebanggaan (baca: kesombongan), “keahlian” memberi atau menerima contekan, “kecerdasan” untuk mengakses situs-situs terlarang yang menawarkan pornografi, judi, dan sebagainya, bisa jadi merupakan hal-hal yang berharga karena seolah-olah dapat memenuhkan kekosongan tak terungkapkan di dalam hati kita.

Akan tetapi, itu semua akan menjadi “sampah”, alias hal-hal yang sama sekali tidak berguna, setelah kita menerima Sang Roti Hidup sekaligus Sang Air Hidup yang akan memuaskan rasa lapar dan dahaga jiwa kita.

Mungkin, ada saat ketika kita justru “memungut kembali” hal-hal yang seharusnya dibiarkan tetap menjadi sampah, terutama ketika kita sedang dalam masa-masa yang kelam dan gelap, namun Sang Penghibur dan Penolong itu akan–seperti orang tua, kakak, atau orang yang lebih dewasa–menginsyafkan kita, sehingga kita menyadari kesalahan kita dan kembali mengarahkan tujuan hidup kita kepada pemuas jiwa kita yang sejati.

Karena sesungguhnya ketika kita sedang menjadikan “sampah kehidupan” itu sebagai hal yang berharga dan patut dipertahankan, itu sama saja dengan menganggap Sang Roti Hidup dan Sang Air Hidup sebagai sampah. Dan itu adalah anggapan yang salah kaprah!

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.