Iman Seperti Anak Kecil

Suatu kali, saya sedang menggendong putri kedua kami yang masih berusia sembilan bulan hingga dia tertidur. Melihat putri bungsunya tertidur, istri saya pun berinisiatif mempersiapkan tempat tidur untuk si kecil. Sebenarnya, saya juga akan dapat bergerak lebih leluasa apabila saya meletakkan putri kami itu ke tempat tidurnya, namun pada waktu itu, saya masih ingin menggendongnya sebentar lagi. Tempat tidur bayi itupun “menganggur” karena ayah si kecil “memaksa” untuk tetap menggendong bayinya.

Merasakan pelukan anak yang tertidur di dalam gendongan merupakan sukacita yang tak terlukiskan bagi saya. Merasakan “penyerahan diri” yang sepenuhnya, dimana ia mempercayakan dirinya ke dalam pelukan ayahnya, bahwa ayahnya akan–dengan segenap hidupnya–menjaganya dari segala hal buruk yang mungkin akan menimpanya. Merasakan “iman” yang tanpa setitikpun keraguan. Dan, tentu saja, merasakan bagaimana kasih mengalir di antara kami, sekalipun ia sedang terlelap.

Pada waktu menikmati menggendong putri kami yang sedang tertidur itulah, saya mengingat hubungan pribadi saya dengan Bapa. Dia pastilah juga sangat menikmati dan merindukan masa-masa ketika saya dan anak-anak-Nya yang lain berada di dalam gendongan-Nya. Berada di dalam dekapan-Nya. Mempercayakan diri seutuhnya kepadaNya. Saling bertukar kasih melalui relasi yang intim dan mendalam, sekalipun tak ada satu kata pun yang terucapkan.

Akan tetapi, pada kenyataannya, yang bertumbuh di dalam hati saya bukan hanya iman dan kasih kepadaNya, melainkan juga “semak duri” kekhawatiran. Saya khawatir, bahwa hubungan saya dengan Bapa tidak cukup memuaskan jiwa, sehingga saya mencari-cari hal-hal yang saya pikir akan dapat menenteramkan batin saya. Hal-hal yang menyenangkan, barangkali, namun sesungguhnya membelenggu–lambat laun, saya merasakan kehampaan tanpanya. Persis seperti rokok atau obat-obatan terlarang yang membuat penggunanya kecanduan. Terasa nikmat memang, tetapi merusak.

Saya juga khawatir, kalau-kalau Bapa lengah dan tidak memperhatikan kebutuhan serta keamanan saya. Alhasil, saya pun mencari-cari cara-cara yang saya pikir akan dapat menjamin keamanan diri saya, di masa kini dan di masa mendatang. Saya khawatir, bahwa ada masa dimana Bapa melupakan pemeliharaan-Nya.

Kekhawatiran “orang-orang dewasa” memang mungkin realistis, mengingat banyaknya tantangan hidup yang–meminjam istilah Syahrini–terpampang nyata. Akan tetapi, sesungguhnya kekhawatiran tersebut hanyalah gejala, bahwa iman dan kasih kita kepadaNya telah banyak tertutup semak duri. Kekhawatiran kita sama sekali tdak mengubah fakta, bahwa Bapa adalah Allah yang sungguh peduli dan penuh kasih setia. Yang sesungguhnya terjadi adalah, mata iman kita tertutup oleh semak duri kekhawatiran.

Oleh karena itulah, saya bertekad bahwa saya harus senantiasa belajar untuk memiliki iman dan kasih seperti anak kecil. Seperti seorang bayi yang terlelap di dalam buaian ayah-bundanya. Meletakkan seluruh pergumulan dan pergolakan batin kepada Bapa, yang tak hanya mampu, tetapi juga mau, menjawab setiap kekhawatiran anak-anak-Nya. Menghentikan pencarian saya yang sia-sia akan hal-hal yang berada di luar kehendak-Nya, yang saya pikir akan dapat menjamin kehidupan saya di luar Bapa.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.