Mengasihi vs Disakiti

Aku tidak akan pernah menyesali apa yang telah kuberi, apa pun itu. Bahkan ketika aku tidak mendapatkan seperti apa yang telah aku beri. Sakit memang, terluka apalagi, namun itu adalah keindahan dari kasih. Ketika kita mengasihi, artinya kita telah mempu keluar cangkang keegoisan untuk memberi tempat bagi orang lain dalam kehidupan kita. Kasih kita tidaklah harus diukur dengan respon dari orang yang kita kasihi. Kita mengasihi karena itu adalah hal yang seharusnya kita lakukan. Kemurnian kasih kita teruji ketika kasih kita tak berbalas kasih. Apakah masih mampu dan dengan tulus kita berkata “aku tetap mengasihimu”. Kasih sejati adalah bukan bagaimana orang lain mengasihi kita, melainkan bagaimana kita mengasihi orang lain dengan tulus. Tulus artinya tidak ada motif apa-apa dibalik kasih itu. Itulah kemurnian dari kasih.

 

Ada saatnya apa yang kita kasihi harus kita lepas, bukan karena kita sudah tidak lagi mengasihi, tatapi itu adalah hal yang benar demi kebaikan kita. Melepaskan tidaklah mudah, itu butuh proses yang panjang. Apa yang kita anggap milik dan seharusnya kita miliki akan sulit untuk kita lepaskan. Namun kasih itu tidaklah memberangus kebebasan kita. ketika kita mengasihi, kita pun harus siap dengan setiap konsekuensi yang dapat saja terjadi, yaitu disakiti. Banyak orang yang hanya siap untuk mengasihi namun tidak siap untuk disakiti. Padahal itu adalah sisi lain dari kasih. Rasa sakit adalah tanda bawa yang kita kasihi memiliki arti dalam kehidupan kita.

 

jangan pelihara rasa sakit itu, lepaskanlah dirimu dan lepaskan kasih itu, biarkan dia menemukan tempat yang tepat. Bahkan bila tempat yang tepat itu bukanlah di hati kita. bukalah hari dan dirimu terhadap kasih yang lain. Jangan menggenggam terlalu kuat apa yang sedang kita kasihi sekarang, karena jika saatnya kasih itu terbang maka kita akan sangat terluka. Biarkan kasih itu berekspresi dan menemukan bentuk yang sempurna.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.