Alarm

Untuk membantu saya terjaga tiap pagi, saya menyetel alarm di ponsel. Tiap pukul lima pagi, ponsel saya akan berbunyi dengan lantang hingga saya terbangun dan (sambil terkantuk-kantuk) mematikannya. Bagi tubuh yang sedang menikmati istirahat, dering suara alarm tentu sangat mengganggu. Namun tanpa menyetel alarm, bisa-bisa saya bangun kesiangan sehingga perencanaan dan aktivitas saya pada hari itu terganggu.

Sama seperti kenyenyakan tidur yang harus terputus di tengah jalan oleh dering alarm ponsel (atau jam weker), ada kalanya hidup kita juga terganggu oleh situasi atau orang-orang yang tiba-tiba datang dan “membangunkan” kita. Tentu itu bukan hal yang bisa kita terima dengan “ikhlas”, terutama pada saat ia pertama kali datang. Sama seperti tubuh saya yang dengan terpaksa beranjak dari pembaringan untuk mematikan alarm.

Namun, gangguan-gangguan yang datang menyentakkan kita dari kenyamanan hidup itu tentunya tidak datang tanpa sebab. Jika kita meyakini bahwa Tuhan mengendalikan segala sesuatu, maka seyogyanya kita pun meyakini, bahwa setiap gangguan yang mengusik kenyamanan kita itu tidak datang tanpa sepengetahuan Tuhan, dan bahwa jika Tuhan mengizinkannya datang, maka itu pasti terkait dengan pertumbuhan serta pendewasaan kita.

Saya percaya kebanyakan orang akan setuju apabila dikatakan, bahwa putus cinta, kehilangan barang yang berharga atau orang yang dikasihi, tertipu rekan bisnis, sakit, kecelakaan, dan lain sebagainya, merupakan “pengganggu-pengganggu” kenyamanan hidup kita. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak akan mengalami setidaknya salah satu dari hal-hal tersebut. Sebuah studi mengungkapkan, bahwa hanya 4,3 persen manusia di seluruh dunia yang tak pernah menderita sakit selama hidupnya.

Deretan pengganggu kenyamanan hidup di atas bisa jadi merupakan alarm-alarm kehidupan yang dianugerahkan Tuhan kepada kita, dengan tujuan untuk membangunkan kita dari “tidur rohani”, agar kita menjadi orang-orang yang bertumbuh menjadi semakin dewasa. Barangkali kita terlalu nyenyak dengan segala aktivitas kita dan mengabaikan orang-orang yang seharusnya kita perhatikan, atau bisa juga kita terlampau nyaman bersandar pada pemikiran dan keterampilan kita sendiri sehingga melupakan Dia.

Pengganggu kenyamanan seperti apakah yang sedang Anda hadapi saat ini? Jangan buru-buru menghindar atau menyingkirkannya, karena jangan-jangan, itulah alarm surgawi untuk membangunkan kerohanian Anda yang sedang terbuai kenyamanan dunia!

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.