Kisah Elena, Gadis Bosnia

Elena adalah seorang gadis Bosnia. Akibat perang di tahun 1992, ia terpaksa terpisah dengan sahabatnya. Mereka saling berkirim surat untuk menguatkan hati satu sama lain, dan melalui serangkaian korespondensi dengan sahabatnya itu, ia akhirnya menjadi seorang Kristen.

Namun sesuatu terjadi. Surat-suratnya jatuh ke tangan polisi di kotanya, dan karenanya, sebagai seorang Kristen yang masih muda, dia dipanggil untuk diinterogasi. Keluarganya sama sekali tidak tahu tentang keputusannya memeluk agama Kristen hingga kejadian itu.

Elena tetap setia pada imannya ketika masa-masa interogasi itu, sementara keluarganya, meski masih terkejut dengan berita tentang perubahan keyakinannya, berusaha keras untuk membelanya.

Ayah Elena mengatakan kepada polisi bahwa apa yang diimani Elena bukanlah urusan mereka dan bahwa ia tak mau dinasehati tentang bagaiamana mengurus keluarga.

Kakek Elena menghadap jenderal yang pernah menjadi pimpinannya, dan mengatakan kepada jenderal tersebut jika Elena dilukai, ia akan menuntut pertanggungjawaban dari jenderal tersebut.

Sementara itu, kakak laki-laki Elena bersumpah bahwa ia akan membunuh siapapun yang berani melukai adiknya itu.

Dan, mereka semua adalah muslim!

Rumah mereka dibom dua kali selama perang, dan mereka semua sedang ada di rumah saat itu, tetapi ajaibnya tidak ada seorangpun yang terluka. Elena masih hidup dan setia memeluk imannya hingga saat ini.

Sarajevo, Bosnia & Herzegovina/Peakvisor.com

Kisah di atas adalah terjemahan bebas saya dari buku “Shining Like Stars.” Kisah ini sangat menyentuh karena menggambarkan bagaimana sebuah keluarga yang tetap berkomitmen sebagai sebuah keluarga, meski nyawa adalah taruhannya. Mereka bisa saja menyerahkan nasib Elena kepada tangan polisi dan hidup dengan tenang, akan tetapi mereka tidak melakukannya.

Adakah di antara Anda yang memiliki formasi keluarga seperti keluarga Elena? Apakah keluarga Anda tetap berkomitmen untuk menjadi “sebuah keluarga” yang saling melindungi seperti keluarga Elena?

Dalam skema yang lebih besar, sudahkah kita berkomitmen untuk tetap menjadi “sebuah bangsa,” yakni bangsa Indonesia? Pernyataan ayah Elena patut untuk disimak kembali. Iman adalah ranah pribadi, dan itu bukan urusan keluarga–apalagi negara.

Saudaraku, tidak ada satupun di antara kita yang dilahirkan sebagai pemeluk suatu agama. Lihat saja Akta Kelahiran kita, tak ada label “Agama” di sana kan? Sebelum menjadi seorang muslim, kristen, hindu, atau buddhis, kita semua terlebih dahulu menjadi seorang anggota keluarga, menjadi seorang Indonesia. Oleh karena itu, baiklah kita memiliki komitmen bersama untuk tetap menjadi sebuah bangsa, bangsa Indonesia.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.