Kawan dan Lawan (2)

KITA, manusia, memang tak suka berada dalam ketakpastian. Karenanya, kita memastikan hal-hal yang tidak pasti agar kita memiliki pijakan untuk menilai. Nahasnya, sering kali kita menganggap pijakan tersebut sebagai satu-satunya kebenaran untuk “menindas” yang lainnya.

Kita berdebat dan terus berdebat atas nama kebenaran. Paijo membela mati-matian calon pemimpin nomor satu. Inem pun tak mau kalah. Ia senantiasa memperlihatkan sisi positif sepak terjang calon pemimpin nomor dua.

Tentu saja perdebatan semacam ini baik selama ada keterbukaan dari kedua belah pihak. Tanpa keterbukaan, kita ibarat dua orang sinting yang berdebat tentang hidup-matinya si kucing dalam eksperimen  “Kucing Schrodinger”. Ya, suatu perdebatan yang tak pernah bertepi.

Dan kalau kita boleh jujur, perdebatan macam ini mengalir dari dalam denyut nadi keimanan kita. Kita lupa diri. Kita menjadi fanatik dengan keyakinan kita dan menganggap rendah mereka yang berbeda keyakinan dengan kita. O, tentu kita tetap menghargai mereka, tapi hanya sebatas manis di bibir.

Untuk selama-lamanya kita akan merasa kasihan kepada mereka karena mereka tidak akan pernah menjadi kawan. Bagi kita, kawan sejati hanya dapat tumbuh dalam satu iman: satu kebenaran.

Ah, betapa piciknya kita. Siapatah yang mencipta perbedaan bak siang berkarib dengan malam, seperti laki-laki mendamba perempuan, ibarat jiwa nan riuh merindu datangnya keheningan, atau bahkan bak kelahiran menyongsong kematian? Lantas, dengan keberanian seujung kuku kita menilai perbedaan atau dua hal yang berlawanan tersebut sebagai keburukan.

Berbeda pendapat itu buruk. Berbeda keyakinan juga buruk. Semua yang melawan itu buruk. Tapi, kawan itu baik.

Dan tidakkah Anda masih mendengar genderang perang bertalu-talu dengan nyaringnya …?

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.